Langsung ke konten utama

Day 1 Skripsi: Keyakinan yang Goyah


(lanjutan)
                Neng, cari ibunya ya?” tanya seorang ibu pemilik warung itu.
                Iya, Bu.
                Tadi ke masjid sana. Udah dari tadi nunggu di sini.
                Perasannku seperti telah terjatuh dari gedung tinggi. Sontak aku langsung lari mencari ibuku padahal jarak satu masjid ke masjid lainnya itu cukup jauh. Aku lupa berpikir jernih dan bersikap tenang. Langsung emosional begitu saja. Takut ibu semakin tersesat, takut mengecewakannya, takut membuatnya menunggu lama, dan ada juga perasaan kesal. Saking kesalnya, kenapa kita tidak bisa bertemu. Kenapa????

                Ah, pokoknya segala hal berkecamuk dalam otakku. Drama banget memang itu tuh soalnya aku sambil lari-lari jadi emosiku kaya terbawa lari juga. Alhasil aku menangis tak tertolong di pinggir jalan. Dengan uring-uringan aku berlari dan menangis, kesal dengan.. entah dengan siapa. Pokoknya kesal saja. Drama banget abisnya. Jarak dekat tapi tak bisa bertemu karena kami saling menunggu. Bukan saling mencari.
                Btw ibuku tidak punya HP. Ada HP tapi kaya telpon rumah. Harus selalu di-cash di rumah gitu Jadi ibarat gak punya HP. Kita sebenarnya sering kejadian salah paham gini karena alat komunikasi. Ditambah aku juga suka sering susah dihubungi karena hp normalku hilang jadi pake hp yg kurang normal alias batrenya bocor dan cepat mati. Hasilnya kita cukup sering salah paham. Padahal masalah ini harusnya simple dan tidak menjadi drama bagi kalian mungkin. Cukup chat di mana tepatnya, share loc, pap lokasi, nanti saling samper. Harusnya di zaman milenial itu begitu ya. Tapi sayangnya keluarga kami masih cukup primitif jadi masih terjadi drama seperti ini. Salah paham karena ga punya telepon genggam.
                Kembali lagi, aku kan gak bisa menahan tangisan ya jadi aja nangis di pinggir jalan. Terus ngumpet di gang kecil yang emang gak ada penghuninya gitu biar gak ketahuan orang. Eh tapi ya namanya kampung, suka ada aja yang merhatiin. Satu persatu orang nyamperin aku. Dari bosnya satpam, sampai satpamnya sendiri, sampai AA-AA yang tadi ngajak ngobrol di warung. Mereka nyamperin aku satu-persatu ketika lagi nangis dan kacau. Aku teh ga mood ditanya-tanya kalau lagi gitu ya. Sebenernya gak ada masalah besar sih. Masalahnya sepele cuma ya… aku cukup emosional dengan keadaanku yang memang kurang baik saat itu.
                Kemudian ibuku menelpon. Artinya ibu sudah sampai di rumah lagi. Aku mengangkatnya sambil nangis. Ibu membentakku. Aku tidak boleh nangis di jalan katanya. Aku langsung matikan telfonnya karena takut keluar kata-kata yang malah tidak enak. Ibu menelponku kembali bertanya aku di mana, dan ia langsung menjemputku kembali di tempat yang benar-benar yakin disepakati.
                Ibuku sampai. Sebenarnya sepanjang menunggu aku sudah berpikir kalimat apa yang harus aku sampaikan padanya. Aku tahu aku tidak boleh emosi dan menyalahkan siapa-siapa. Eh pas ibuku datang, aku malah curhat bahwa aku masih kesal, entah kepada siapa, mungkin kepada diri sendiri. Ditambah aku melontarkan kalimat bahwa ibu salah masjid dan tempat titik pertama perjanjian bukan di situ. Tadi ibu tidak menurunkanku di situ, tapi harus maju lagi. Seolah aku menyalahkannya. Kemudian aku terdiam.
                Dari spion, aku melihat ibuku mengusap air mata dengan kerudungnya. Aku merasa bersalah. Barangkali aku menyakiti hatinya karena kalimatku yang seolah menyudutkan kesalahannya. Padahal kalau dilihat lebih jernih lagi, tidak ada yang salah dan harus disalahkan. Kami sudah sama-sama lelah menunggu selama satu jam lebih itu. Terlebih ibu harus bulak-balik menjemputku.
                Aku semakin merasa bersalah memikirkan berada di posisinya yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjemput anaknya, tapi malah salah dan khilaf. Aku takut jadi anak durhaka. Sebelum terlambat, aku harus ngobrol baik-baik dan minta maaf. Aku memutar otak. Bagaimana ya caranya? Kurang enak kalau ngobrol di motor karena nanti salah paham lagi.
                Akhirnya aku mencoba membuka obrolan tentang jus apa yang bagus untuk pencernaanku. Dan kami mampir ke tukang jus membeli jus untuk kami berdua. Aku menatap matanya, bertanya, “Ibu nangis ya? Maafin wiwi ya…” kemudian memeluknya. Aku takut kalau ibu tak memaafkanku hari itu, akan banyak urusanku yang mendapat kesulitan karena telah menyakitinya. Lalu ibu membalas, “Maafin ibu juga tadi udah bentak wiwi. Boleh nangis, tapi jangan di jalan. Wiwi kan strong.” Alhamdulillah. Terkadang aku kesal mengapa sebagian besar keluargaku introvert begini jadi sering ada kesalahpahaman karena kurang komunikasi dan saling memendam satu sama lain. Tapi di sisi lain, aku tahu sisi positifnya bahwa aku dan ibu memiliki self-reflecting besar yang mungkin jarang kami tunjukkan satu sama lain. Kami sama-sama suka menyalahkan diri sendiri. Aku belajar itu dari mendiang ayahku juga. Dulu ayahku pernah meminta maaf kepadaku karena telah memarahiku padahal saat itu aku yang salah karena jadi anak kecil yang nakal dan tidak mau sholat. Aku.. bangga dan senang punya orangtua seperti mereka. Tapi maaf kalau aku sering menyakiti. :”)
                Alhamdulillah masalah drama terakhir selesai dengan berpelukan. Kami tidak lagi mempermasalahkannya karena memang sudah begitu keadaannya. Tiba-tiba aku teringat bahwa kejadian emosional tadi adalah karena aku lupa menyebut sebuah kalimat.
Qadarullah…
                Kalimat itu berulang kali selalu membuat hatiku jauh lebih tenang. Bahwa apa-apa yang sudah menjadi takdir-Nya pasti selalu mengundang berbagai hikmah yang harus segera aku tangkap.

Baiklah kali ini aku mau coba petik satu persatu hikmah yang bisa kutangkap dari perjalananku hari ini:
1. Perjalanan “digusur” sana-sini oleh warga membuatku teringat akan kalimat ihdinashiratalmustaqiim yang berarti tunjukkilah kami ke jalan yang lurus. Waktu itu aku pernah dengar kajian ustad NAK bahwa sebenarnya kalimat itu bukan berarti sekadar “menunjukkan”, tapi juga “menuntun”. Perbedaannya adalah ketika kamu ditunjukkan, yaa sekedar ditunjukkan arahnya ke mana. Tapi kalau sampai dituntun, ibaratnya diantar dan digandeng betul-betul sampai kita sampai tepat di tujuan yang kita mau. Dan tadi itu warga sekitar hanya “menunjukkiku” arah aku harus ke mana, mereka bilang rumahnya ada di sebelah pohon pete. Padahal aku tidak tahu pohon pete itu yang seperti apa wujudnya. Mereka bilang lurus terus tinggal mengikuti jalan. Padahal itu ada di gang sempit yang banyak kelokan. Sungguh, kalau sekedar “ditunjukkan” aku akan kebingungan. Sepanjang perjalanan itu aku mengingat ayat itu, benar-benar meminta ingin “dituntun” sampai aku benar tepat sampai di informan yang kubutuhkan. Betapa selama ini aku kurang menghayati ayat itu. Permohonan meminta dituntun (tidak sekedar ditunjukkan) itu penting sekali ya. Karena ini tentang, “Akankah kita suatu saat sampai pada tujuan yang kita inginkan?”

2. Kesalahpahaman aku dan ibuku membuat aku berpikir: Kalau setiap orang berpikir bahwa jodoh nanti juga bertemu tanpa perlu kita cari, ya akhirnya bakal kaya aku dan ibuku gini. Kita sama-sama menunggu tanpa bergerak maju untuk mencari. Pada akhirnya tidak bertemu. Padahal ini kejadian yang kesekian di hidupku. Aku dan temanku yang seorang introvert juga pernah begini juga. Kita janjian di sebuah tempat yang cukup luas hingga salah paham titik kumpulnya di mana. Kita tidak bisa saling komunikasi dan malah saling menunggu satu sama lain di tempat yang salah tanpa ada salah satu yang mau berusaha duluan untuk mencari. Tapi pada akhirnya aku juga yang bergerak mencari setelah jenuh menanti. Aku belajar bahwa aku harus terus bergerak mencari bukan hanya diam menanti agar aku benar-benar bisa bertemu seseorang yang kutuju.

3. Perjalanan hari ini membuatku lebih mengenal diri sendiri bahwa aku memang sepertinya akan kesulitan untuk penelitian lapangan di masyarakat seperti ini seorang diri. Mungkin beda cerita kalau ada seorang teman yang mau melengkapi kurangku di perjalanan ini. Tapi karena ini sendiri, aku jadi bertanya kembali, apakah topik ini benar-benar sesuai dengan jati diriku? Sebenarnya di sastra topik penelitian itu cukup adil sih bagi ekstrovert dan introvert. Kita bisa memilih penelitian lapangan yang langsung ke masyarakat seperti sastra klasik atau penelitian teks sastra dalam sastra modern. Aku jadi berpikir ulang, keyakinanku jadi mulai goyah. Kupikir aku lebih menyukai penelitian textbook. Ibuku juga bilang, “Ganti topik saja.” Tapi bagaimana dengan image-ku selama ini yang sudah dikenal dengan topik tersebut?

Sebenarnya aku tidak mau pusing dulu memikirkan topik skripsi karena toh aku masih semester 6. Tapi dosenku yang terlalu baik dan cukup idealis membuatku ingin memenuhi ekspektasinya terhadapku bahwa aku bisa menyelesaikan skripsi ini dengan lebih cepat. Tapi apa daya, sebenarnya aku masih mau menikmati masa perkuliahanku. Aku suka kuliah. Bisakah aku bebas dulu dari kejaran data skripsi? Insyaallah, aku tetap akan lulus tepat waktu.

Jadi, menurutmu bagaimana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa. 

MENJADI MUSLIM SEJATI

Menjadi muslim sejati bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. Apalagi di zaman teknologi ini, selain bahayanya lidah tidak bertulang, juga sama berbahayanya jari yang tanpa kendali. Apa saja bisa dituliskan. Termasuk seorang muslim yang memilih dakwah dengan tulisan. Tapi hal yang seringkali luput dari pendakwah baru adalah adab dalam berdakwah itu sendiri.

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.