Langsung ke konten utama

Selesai...

Kupikir aku telah selesai.
Setelah melalui penyelesaian yang sulit.
Setelah mengakhiri segalanya dengan kutukan yang menjijikan. Bahwa aku tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah. Tidak akan pernah.
Kemudian aku berjalan maju. Memulai segala hal baru. Berkenalan dengan sosok aku yang baru. Mencintai pribadi baru yang berhasil kuciptakan sendiri.
Saat itu, aku merasa telah menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam kompetisi melawan diriku sendiri.


Berbulan-bulan aku begitu produktif mencintaiku. Tersenyum atas segala payah karena yakin setiap payah adalah tangga agar aku lekas sampai. Menikmati setiap keringat dan sulit. Menghabiskan seluruh energi dengan bahagia. Hingga saat energi itu benar-benar habis, aku lupa bagaimana mengisi rehat dengan baik. Yang ada rehat hanya mengantarku kembali pada masa lalu. Istirahat hanya akan menjerumuskanku, menggelincirkanku, menjatuhkanku.

Orang tidak tahu bagaimana aku berusaha menyibukkan diri agar tiada kekosongan yang kuisi sia-sia. Orang selalu menyuruhku rehat, istirahat. Ketika aku mengiyakan permintaan mereka, kebetulan raga ini memang telah tumbang karena terlalu menggebu dalam bekerja, aku malah tergelincir lagi. Jatuh ke titik nol lagi. Harus mulai menapaki tangga dari bawah lagi.

Mungkin aku memang tidak cocok untuk rehat dan istirahat. Biarlah aku babak belur dalam rutinitas. Biarlah aku begini menempa diri hingga titik maksimal. Biarlah aku terjatuh ketika berlari. Daripada harus tergelincir ketika justru sedang istirahat. Dan kembali ke titik nol lagi. Bertahun-tahu aku berlari. Tapi tidak pernah sampai.

Kupikir aku telah selesai. Tapi mungkin aku memang tidak pernah selesai. Bagaimanapun, kuharap kamu masih mau menerimaku sebagai pribadi yang memang tak pernah selesai. Saat ini aku mungkin seorang pecundang. Aku tertinggal jauh di belakang padahal sempat melesat. Tapi aku masih ingin berlari, pergi meninggalkan hal ini jauh-jauh sekali. Sampai aku lupa bahwa aku pernah payah mengelola diri. Sampai aku benar-benar selesai. Mungkin saat itu adalah mati.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fructus [buah]

Salam sehat :D udah lama ya ga ngeblog. sekalinya ngeblog pengen banget nulisin lagi apa yang tadi saya praktekan di sekolah. pelajaran praktek farmakognosi. tentang simplisia dr fructus atau yang bisa kita sebut, buah. untuk pengertian simplisia sendiri bisa dicari di google, wikipidea, atau tanyakan di kolom komentar jika anda benar2 kepo. yah, walau ilmu saya tidak seberapa, tapi saya berharap dengan sedikit ilmu yg saya punya ini dapat bermanfaat bagi yg membacanya. dan saya menulis ini juga sambil mengingat kembali agar tdk menjadi memori jangka pendek. oke, kita langsung saja.

Belajar Menyederhanakan Perasaan

Aku ingin jemariku bergerak sendiri untuk menuliskan sesuatu yang bisa mewakilkan perasaanku sendiri. Sayangnya, perasaanku tak bisa terwakilkan oleh apapun. Bagaimana bisa perasaanku diwakilkan, kalau wujudnya saja tak pernah ada. Aku ingin selalu bisa berkenalan dengannya. Dengan perasaan-perasaanku yang katanya juga ingin didengar. Perasaan sedih yang ingin dimanja dengan air mata. Perasaan senang yang ingin dibayar dengan tawa. Perasaan kecewa yang ingin diluapkan dengan amarah.

Untuk Hatimu

  Hai.  Jawab dong.  Hai.  Nah, gitu dong. Jawab di dalam hati. Karena memang itu tujuan tulisan ini dibuat.   Semoga apa yang ditulis dengan hati akan dibaca dengan hati. Semoga apa yang dikirim dengan hati akan sampai pada hati.  Apa kabar hatimu? Semoga tak pernah terluka. Semoga tak pernah kecewa.