Kupikir aku telah selesai.
Setelah melalui penyelesaian yang sulit.
Setelah mengakhiri segalanya dengan kutukan yang menjijikan. Bahwa aku tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah. Tidak akan pernah.
Kemudian aku berjalan maju. Memulai segala hal baru. Berkenalan dengan sosok aku yang baru. Mencintai pribadi baru yang berhasil kuciptakan sendiri.
Saat itu, aku merasa telah menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam kompetisi melawan diriku sendiri.
Berbulan-bulan aku begitu produktif mencintaiku. Tersenyum atas segala payah karena yakin setiap payah adalah tangga agar aku lekas sampai. Menikmati setiap keringat dan sulit. Menghabiskan seluruh energi dengan bahagia. Hingga saat energi itu benar-benar habis, aku lupa bagaimana mengisi rehat dengan baik. Yang ada rehat hanya mengantarku kembali pada masa lalu. Istirahat hanya akan menjerumuskanku, menggelincirkanku, menjatuhkanku.
Orang tidak tahu bagaimana aku berusaha menyibukkan diri agar tiada kekosongan yang kuisi sia-sia. Orang selalu menyuruhku rehat, istirahat. Ketika aku mengiyakan permintaan mereka, kebetulan raga ini memang telah tumbang karena terlalu menggebu dalam bekerja, aku malah tergelincir lagi. Jatuh ke titik nol lagi. Harus mulai menapaki tangga dari bawah lagi.
Mungkin aku memang tidak cocok untuk rehat dan istirahat. Biarlah aku babak belur dalam rutinitas. Biarlah aku begini menempa diri hingga titik maksimal. Biarlah aku terjatuh ketika berlari. Daripada harus tergelincir ketika justru sedang istirahat. Dan kembali ke titik nol lagi. Bertahun-tahu aku berlari. Tapi tidak pernah sampai.
Kupikir aku telah selesai. Tapi mungkin aku memang tidak pernah selesai. Bagaimanapun, kuharap kamu masih mau menerimaku sebagai pribadi yang memang tak pernah selesai. Saat ini aku mungkin seorang pecundang. Aku tertinggal jauh di belakang padahal sempat melesat. Tapi aku masih ingin berlari, pergi meninggalkan hal ini jauh-jauh sekali. Sampai aku lupa bahwa aku pernah payah mengelola diri. Sampai aku benar-benar selesai. Mungkin saat itu adalah mati.
Setelah melalui penyelesaian yang sulit.
Setelah mengakhiri segalanya dengan kutukan yang menjijikan. Bahwa aku tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah. Tidak akan pernah.
Kemudian aku berjalan maju. Memulai segala hal baru. Berkenalan dengan sosok aku yang baru. Mencintai pribadi baru yang berhasil kuciptakan sendiri.
Saat itu, aku merasa telah menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam kompetisi melawan diriku sendiri.
Berbulan-bulan aku begitu produktif mencintaiku. Tersenyum atas segala payah karena yakin setiap payah adalah tangga agar aku lekas sampai. Menikmati setiap keringat dan sulit. Menghabiskan seluruh energi dengan bahagia. Hingga saat energi itu benar-benar habis, aku lupa bagaimana mengisi rehat dengan baik. Yang ada rehat hanya mengantarku kembali pada masa lalu. Istirahat hanya akan menjerumuskanku, menggelincirkanku, menjatuhkanku.
Orang tidak tahu bagaimana aku berusaha menyibukkan diri agar tiada kekosongan yang kuisi sia-sia. Orang selalu menyuruhku rehat, istirahat. Ketika aku mengiyakan permintaan mereka, kebetulan raga ini memang telah tumbang karena terlalu menggebu dalam bekerja, aku malah tergelincir lagi. Jatuh ke titik nol lagi. Harus mulai menapaki tangga dari bawah lagi.
Mungkin aku memang tidak cocok untuk rehat dan istirahat. Biarlah aku babak belur dalam rutinitas. Biarlah aku begini menempa diri hingga titik maksimal. Biarlah aku terjatuh ketika berlari. Daripada harus tergelincir ketika justru sedang istirahat. Dan kembali ke titik nol lagi. Bertahun-tahu aku berlari. Tapi tidak pernah sampai.
Kupikir aku telah selesai. Tapi mungkin aku memang tidak pernah selesai. Bagaimanapun, kuharap kamu masih mau menerimaku sebagai pribadi yang memang tak pernah selesai. Saat ini aku mungkin seorang pecundang. Aku tertinggal jauh di belakang padahal sempat melesat. Tapi aku masih ingin berlari, pergi meninggalkan hal ini jauh-jauh sekali. Sampai aku lupa bahwa aku pernah payah mengelola diri. Sampai aku benar-benar selesai. Mungkin saat itu adalah mati.
Semangat 💪💪💪
BalasHapus